Perang Semakin Lepas Kendali, Mengapa AS Gagal Kalahkan Iran?

republika.co.id
4 jam lalu
Cover Berita

REPUBLIKA.CO.ID, DOHA— Presiden AS Donald Trump menghadapi situasi yang rumit dalam perang melawan Iran, sehingga mengumumkan kemenangan pada tahap ini tampak terlalu dini dan tidak realistis.

Hal ini di tengah tanda-tanda yang menunjukkan perang tersebut secara bertahap mulai lepas kendali, sementara dampaknya di tingkat regional dan internasional semakin kompleks.

Baca Juga
  • Diakui Militer Dunia, Ini Tabir 'Bapak Rudal’ Sosok Utama di Balik Dahsyatnya Senjata Iran
  • Ada Jejak Almarhum Muamar Gaddafi Libya di Balik Kedigdayaan Rudal-Rudal Iran Masa Kini
  • 2 Pesawat AS Jatuh di Irak dan Seperti Biasa Bantah Akibat Dirudal Iran, Padahal…

Dengan pengantar tersebut, Stephen Collinson membuka artikel analitisnya di situs "CNN", dikutip Aljazeera, Ahad (15/3/2026).

Dia menjelaskan bahwa pandangan objektif terhadap peristiwa-peristiwa tersebut menunjukkan bahwa Amerika Serikat belum menang, karena kompleksitas yang semakin meningkat meragukan narasi kemenangan yang sesuai secara politik.

.rec-desc {padding: 7px !important;}

Penulis tersebut menganggap poin ini sebagai alasan pertama dari tujuh alasan yang menghalangi pengumuman kemenangan secara realistis, meskipun Presiden Donald Trump telah mengumumkannya pada Rabu.

"Izinkan saya mengatakannya dengan jujur: Kami menang. Seperti yang Anda ketahui, mengumumkan kemenangan terlalu dini bukanlah hal yang disarankan. Kami menang. Kami menang, hasilnya sudah pasti sejak jam pertama, tetapi kami menang."

Alasan kedua terlihat dalam keputusan Iran untuk menutup Selat Hormuz, yang merupakan salah satu jalur laut terpenting untuk pengangkutan minyak di dunia.

Membuka kembali jalur tersebut dengan paksa bukanlah tugas yang mudah, meskipun penutupannya—bersama dengan serangan terhadap kapal tanker minyak di Teluk—telah meningkatkan harga minyak dan bahan bakar secara tajam di seluruh dunia, serta menaikkan biaya asuransi kapal, yang mencerminkan meluasnya dampak ekonomi perang.

Dari sinilah muncul alasan ketiga—menurut penulis—yaitu bahwa berlanjutnya institusi pemerintahan Iran dan berjalannya sistem secara relatif normal telah melemahkan harapan akan runtuhnya rezim, bahkan mungkin kehancurannya, meskipun sempat ada harapan yang digantungkan pada kematian Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, bahkan kepemimpinan baru yang diwakili oleh Mojtaba Khamenei mungkin akan lebih keras, menurut penulis.

 
 
 
Lihat postingan ini di Instagram
 
 
 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Republika Online (@republikaonline)

Loading...
.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;}
Advertisement

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Cadangan Minyak Terbesar Dunia Bakal Dilepas, Tapi Harga Tetap Tinggi
• 13 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
AS Bombardir Pulau Kharg Pusat Ekspor Minyak Iran, Trump Sebut Targetkan Infrastruktur Militer
• 17 jam lalukompas.tv
thumb
BAZNAS BAZIS DKI Jakarta Salurkan Fidyah Berupa 2.000 Porsi Makanan Pada Bulan Ramadhan
• 19 jam lalutvonenews.com
thumb
Wakil Ketua Komisi XII Ajak Masyarakat Berani Viralkan Penyelewengan Solar
• 16 jam lalukumparan.com
thumb
Masya Allah! Sehari Sebelum Wafat, Vidi Aldiano Sumbang Sound System Untuk Masjid, Sempat Ingin Hadiri Peresmian
• 17 jam lalugrid.id
Berhasil disimpan.