Amerika Serikat (AS) dan Jepang akan mengembangkan proyek potensial pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) bersama. Nantinya, proyek itu akan melibatkan perusahaan energi Westinghouse Electric Company serta sejumlah produsen peralatan nuklir Jepang.
Dikutip dari Reuters, Minggu (14/3), Presiden Global Business Initiatives Westinghouse, Dan Lipman mengatakan bahwa kedua pemerintah telah mencapai kesepahaman mengenai peran yang akan diambil dalam proyek tersebut termasuk terkait rantai pasok di Jepang.
“Ini adalah proyek yang sangat strategis dan sangat penting bagi Westinghouse serta mitra Jepang kami. Kami akan terus mengerjakan transaksi ini hingga proyeknya teridentifikasi dan siap untuk dijalankan,” kata Lipman.
Saat ini, Jepang dan AS memang sedang berupaya memasukkan proyek PLTN tersebut dalam putaran kedua kesepakatan paket investasi Jepang ke AS senilai USD 550 miliar.
Adapun Westinghouse Electric Company yang dimiliki oleh Cameco dan Brookfield Asset Management tengah mempertimbangkan pembangunan reaktor air bertekanan atau pressurized water reactors serta reaktor modular kecil atau small modular reactors/SMR dengan nilai investasi hingga USD 100 miliar.
Rencana tersebut tertuang dalam lembar fakta yang dirilis setelah Presiden AS Donald Trump saat bertemu Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi pada Oktober lalu.
Selain itu, sejumlah perusahaan Jepang seperti Mitsubishi Heavy Industries, Toshiba, dan IHI Corporation juga berpotensi terlibat dalam proyek tersebut.
Secara terpisah, produsen peralatan listrik asal AS yakni GE Vernova dan perusahaan Jepang Hitachi juga menyatakan telah sepakat menjajaki peluang kerja sama dalam proyek reaktor modular kecil BWRX-300 di Asia Tenggara.
Pembangunan fasilitas PLTN kini juga semakin mendapat momentum secara global seiring banyak negara berupaya menambah sumber energi domestik untuk mengantisipasi gangguan pasokan energi.




