Slekoran di Lhokseumawe: Menyusuri Ramadan di Bumi Warisan Samudra Pasai

kumparan.com
5 jam lalu
Cover Berita

Bagi masyarakat Madura, malam ke-21 bulan Ramadhan dikenal dengan istilah Slekoran. Istilah ini merujuk pada dimulainya sepuluh malam terakhir Ramadan—fase yang diyakini penuh keberkahan dan menjadi momentum untuk meningkatkan kualitas ibadah. Dalam tradisi masyarakat Madura, malam Slekoran biasanya diisi dengan kegiatan religius seperti tadarus Al-Qur’an, doa bersama, serta tradisi berbagi makanan kepada tetangga dan kerabat.

Slekoran bukan sekadar penanda kalender Ramadan. Ia juga menjadi simbol penguatan spiritualitas sekaligus mempererat ikatan sosial dalam kehidupan masyarakat.

Tahun ini, malam Slekoran saya jalani bukan di tanah Madura, melainkan di Lhokseumawe dan Aceh Utara. Pengalaman menjalani Ramadan di wilayah ini memberikan kesan yang berbeda sekaligus menghadirkan ruang refleksi tentang bagaimana nilai-nilai Islam hidup dalam keseharian masyarakat.

Lhokseumawe dan Aceh Utara sendiri merupakan kawasan bersejarah yang dahulu menjadi pusat Kerajaan Samudra Pasai, salah satu kerajaan Islam tertua di Nusantara yang berkembang sejak abad ke-13. Kerajaan ini dikenal sebagai pintu awal penyebaran Islam di wilayah Asia Tenggara sekaligus pusat perdagangan dan keilmuan Islam pada masanya. Warisan sejarah itu terasa hingga kini dalam kehidupan masyarakat Aceh yang sangat menjunjung nilai-nilai keislaman.

Hal pertama yang terasa selama Ramadan di Lhokseumawe dan Aceh Utara adalah disiplin sosial masyarakat dalam menghormati waktu salat. Setiap kali azan berkumandang, aktivitas ekonomi praktis berhenti. Toko-toko menutup sementara, dan masyarakat bergegas menuju masjid. Pemandangan ini memperlihatkan bahwa nilai religius tidak hanya menjadi urusan pribadi, tetapi juga menjadi norma sosial yang dijaga bersama.

Hal lain yang cukup mencolok adalah budaya berpakaian masyarakatnya. Selama berada di Lhokseumawe dan Aceh Utara, hampir tidak terlihat perempuan mengenakan pakaian ketat atau pendek. Mayoritas perempuan tampil dengan busana yang sopan dan syar’i. Demikian pula dengan laki-laki; jarang terlihat orang berjalan di ruang publik dengan celana pendek. Norma sosial ini terasa berjalan alami karena telah menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat sehari-hari.

Perbedaan waktu juga memberikan pengalaman tersendiri. Jika di Madura waktu berbuka puasa biasanya sekitar pukul 17.45, maka di Lhokseumawe waktu berbuka sekitar pukul 18.45, hampir satu jam lebih lambat. Ritme aktivitas Ramadan pun menyesuaikan dengan kondisi tersebut. Salat tarawih biasanya baru selesai sekitar pukul 10.00 malam.

Menariknya, aktivitas ekonomi malam hari di kota ini tetap hidup. Toko-toko dan pusat perbelanjaan umumnya baru tutup sekitar pukul 00.00 malam. Setelah berbuka dan menunaikan tarawih, masyarakat kembali menjalankan aktivitas sosial maupun ekonomi hingga menjelang tengah malam.

Namun malam di Lhokseumawe tidak serta-merta menjadi sunyi setelah tarawih. Justru pada waktu inilah kehidupan sosial masyarakat terasa lebih hidup melalui tradisi ngupi, atau menikmati kopi di warung kupi.

Aceh memang dikenal sebagai salah satu daerah dengan budaya kopi yang kuat. Di Lhokseumawe, salah satu kedai yang cukup dikenal adalah Kupi Syarif Delima. Rasanya kurang lengkap berkunjung ke kota ini tanpa mencicipi kopi saring Aceh di kedai tersebut. Kopi yang diseduh dengan cara tradisional menghasilkan aroma khas yang menjadi daya tarik tersendiri.

Warung kupi bukan sekadar tempat minum kopi. Ia juga menjadi ruang sosial tempat masyarakat berdiskusi, bercengkerama, bahkan sekadar melepas penat. Tidak sedikit warga yang ngopi hingga pukul satu bahkan tiga dini hari, menjelang waktu sahur. Sementara itu, waktu sahur di wilayah ini biasanya dimulai sekitar pukul 04.00 hingga 05.30 pagi.

Pada suatu sore, kami juga mencoba berbuka puasa di kawasan pantai Bangka Jaya, Aceh Utara. Suasananya cukup ramai dengan pengunjung yang menikmati hidangan berbuka sambil memandang laut. Atmosfernya mengingatkan pada konsep wisata kuliner pantai seperti di Jimbaran, Bali.

Namun ada satu hal yang terasa berbeda. Para pengunjung perempuan hampir semuanya mengenakan pakaian yang sopan dan syar’i, tanpa terlihat pakaian minim atau ketat. Suasana wisata tetap ramai, tetapi tetap berada dalam koridor norma sosial yang dijaga oleh masyarakat setempat.

Melihat fenomena tersebut, muncul sebuah refleksi sederhana: model wisata seperti ini sebenarnya menarik untuk dipertimbangkan di Madura. Pariwisata tetap berkembang, ekonomi masyarakat tetap bergerak, namun nilai-nilai budaya dan kesopanan tetap terjaga.

Di sisi lain, siang hari di Lhokseumawe terasa cukup panas dengan matahari yang terik. Namun menjelang sore, suasana kota kembali hidup ketika masyarakat mulai bersiap menyambut waktu berbuka.

Pengalaman menjalani Ramadan—terutama malam Slekoran—di Lhokseumawe dan Aceh Utara memberikan pelajaran menarik tentang bagaimana nilai religius dapat hidup berdampingan dengan aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat. Tradisi boleh berbeda, tetapi semangat menjaga kesakralan Ramadan tetap terasa sama.

Pada akhirnya, perjalanan ini menghadirkan sebuah kesadaran bahwa Madura dan Aceh memiliki jejak yang sama dalam sejarah Islam Nusantara. Jika Samudra Pasai dahulu menjadi salah satu pusat awal penyebaran Islam di kawasan ini, maka berbagai tradisi keagamaan di daerah lain—termasuk di Madura—adalah bagian dari mata rantai panjang perkembangan peradaban Islam di kepulauan Nusantara. Malam Slekoran yang saya alami di Lhokseumawe dan Aceh Utara seakan menjadi pengingat bahwa di balik keragaman tradisi, ada satu nilai yang sama: menjaga Ramadan dengan iman, kesopanan, dan kebersamaan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Rakhano Rilis Remake “Ruang Rindu” Setelah Cover Viral di TikTok
• 8 jam lalupantau.com
thumb
Pemerintah Israel Bantah Kabar Kematian PM Benjamin Netanyahu
• 33 menit laluidxchannel.com
thumb
Pesawat Militer AS KC-135 Jatuh di Irak, Seluruh Awak Tewas
• 6 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Gubernur DKI Jakarta Imbau Pengunjung Taman Bendera Pusaka Gunakan Transportasi Umum
• 1 jam lalurepublika.co.id
thumb
Antisipasi Efek Penutupan Sementara di Pelabuhan Ketapang, Polda Jatim Siapkan Sejumlah Kantong Parkir
• 18 jam lalusuarasurabaya.net
Berhasil disimpan.