Amerika Serikat mengklaim serangannya telah melukai Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei. Menurut Washington, ia mengalami luka serius setelah hampir dua minggu serangan militer terhadap Iran.
Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth mengatakan sosok tersebut kemungkinan mengalami luka yang membuat penampilannya berubah, serta mempertanyakan kemampuannya untuk memimpin negara.
Baca Juga: Trump: Demi Keselamatan, Iran Sebaiknya Tak Ikut Piala Dunia
“Kami tahu pemimpin baru yang disebut sebagai pemimpin tertinggi itu terluka dan kemungkinan mengalami disfigurasi,” kata Hegseth, dikutip dari Reuters.
Ia juga menyoroti bahwa pernyataan terbaru dari Khamenei. Menurutnya, pesan yang hanya disampaikan dalam bentuk teks tanpa rekaman suara atau video merupakan bukti atas hal tersebut.
“Iran memiliki banyak kamera dan alat perekam suara. Mengapa hanya pernyataan tertulis? Saya pikir kita tahu alasannya,” ujar Hegseth.
Khamenei menurutnya berada dalam kondisi tertekan setelah serangan udara di awal perang menewaskan keluarga hingga ayahnya, Ali Khamenei. Ia kini menghadapi tantangan besar untuk mempertahankan legitimasi di tengah konflik yang masih berlangsung.
Iran sebelumnya mengakui bahwa serangan telah melukai Mojtaba Khamenei. Namun Teheran menegaskan bahwa cedera tersebut ringan dan tidak mengganggu kemampuannya menjalankan tugas sebagai pemimpin tertinggi.
Duta Besar Iran untuk Jepang Peyman Saadat mengatakan bahwa tugas pemimpin negara masih dijalankan oleh Khamenei.
“Dia memang mengalami luka akibat perang saat pemimpin tertinggi sebelumnya dibunuh. Tetapi luka tersebut tidak menghalangi kemampuannya untuk menjalankan tugas,” kata Saadat.
Mojtaba Khamenei sendiri belum pernah muncul secara publik sejak serangan dari Israel dan Amerika Serikat. Hingga kini, belum ada rekaman video atau foto terbaru yang dirilis pemerintah terkait kondisi pemimpin tertinggi tersebut.
Mojtaba Khamenei sendiri disebut sebagai “janbaz”, istilah yang digunaka untuk menyebut veteran perang yang mengalami luka.
Baca Juga: Iran: Perang Tak Bisa Dimenangkan dengan Cuitan
Mojtaba kini dianggap sebagai pewaris perjuangan para “martir” yang gugur dalam serangan tersebut. Ia disebut-sebut sebagai simbol perlawanan dari Iran ke Amerika Serikat dan Israel.





