SBY Serukan Penguatan Multilateralisme di Tokyo Conference 2026

suarasurabaya.net
14 jam lalu
Cover Berita

Forum internasional Tokyo Conference kembali digelar di Tokyo, Jepang pada 10–12 Maret 2026. Pertemuan tahunan yang diselenggarakan oleh organisasi kebijakan publik The Genron NPO tersebut menghadirkan sejumlah tokoh dunia, mulai dari mantan kepala negara, pejabat pemerintah, hingga pakar hubungan internasional.

Pada tahun ini, konferensi mengangkat tema “Rebuilding Multilateralism within the Expanding Power–Driven Order”, yang menyoroti pentingnya memperkuat kembali kerja sama global di tengah meningkatnya rivalitas kekuatan besar dunia.

Nurmala Kartini Sjahrir Duta Besar Republik Indonesia untuk Jepang mengatakan, forum ini menjadi ruang strategis bagi para pemimpin dunia untuk merumuskan gagasan baru demi menjaga stabilitas global.

“Tokyo Conference merupakan salah satu forum strategis dalam menghimpun gagasan bersama untuk menciptakan tatanan dunia dalam kerangka perdamaian dunia. Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono, hadir untuk turut menyumbang gagasan khususnya mengenai opsi Asia dalam the Age of Power dan penghormatan atas hukum internasional,” ujar Nurmala Kartini Sjahrir dalam keterangan yang diterima suarasurabaya.net, Sabtu (14/3/2026).

Ia menambahkan, dalam forum tersebut SBY juga menekankan pentingnya membangun kembali multilateralisme sebagai landasan kerja sama internasional di tengah dinamika geopolitik yang semakin kompleks.

Dalam konferensi tersebut, SBY tampil sebagai pembicara utama bersama sejumlah tokoh dunia lainnya. Mereka di antaranya mantan Fumio Kishida Perdana Menteri Jepang yang juga menjabat Kepala Penasihat Tokyo Conference, Anwar Ibrahim Perdana Menteri Malaysia yang menyampaikan pandangannya melalui rekaman video, serta Kaja Kallas Perwakilan Tinggi Uni Eropa untuk Urusan Luar Negeri dan Kebijakan Keamanan sekaligus Wakil Presiden Komisi Eropa.

Selain itu hadir pula Keith Kellog mantan Asisten Presiden Amerika Serikat sekaligus Utusan Khusus AS untuk Ukraina, Christian Wulff Presiden ke-10 Republik Federal Jerman, serta Paolo Gentiloni mantan Perdana Menteri Italia dan Komisioner Ekonomi Eropa.

Dalam paparannya, SBY menyoroti meningkatnya ketidakpastian geopolitik global serta maraknya pelanggaran terhadap hukum internasional. Ia menilai situasi tersebut menjadi tantangan serius bagi sistem tatanan dunia yang berbasis aturan.

SBY menyinggung sejumlah konflik yang mencerminkan lemahnya kepatuhan terhadap hukum internasional, termasuk eskalasi serangan yang melibatkan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran, serta perang Rusia dan Ukraina yang belum menunjukkan tanda-tanda berakhir.

“Hukum internasional sudah tidak lagi dipatuhi bahkan diabaikan. Padahal power atau kekuasaan itu perlu dikontrol. Alat untuk mengontrol power adalah dengan power yang lainnya,” kata SBY.

Ia menegaskan bahwa dunia yang berbasis aturan saat ini menghadapi tekanan besar, sehingga negara-negara perlu mengedepankan dialog dan diplomasi guna mencegah konflik yang lebih luas.

Menutup pemaparannya, SBY mengajak negara-negara di dunia untuk kembali memperkuat komitmen terhadap kerja sama internasional demi menjaga stabilitas global.

Pandangan tersebut sejalan dengan pernyataan Fumio Kishida yang menilai kawasan Asia menjadi wilayah yang paling terdampak oleh dinamika persaingan kekuatan besar serta konflik antarnegara yang terus berlangsung.

“Asia adalah kawasan yang paling terpengaruh oleh kebijakan kekuatan besar dan konflik peperangan yang terjadi saat ini,” ujar Kishida dalam forum tersebut.

Para pembicara dalam Tokyo Conference 2026 juga menekankan pentingnya mempromosikan multilateralisme sebagai fondasi utama bagi kerja sama global dalam menghadapi berbagai tantangan keamanan dan perdamaian dunia.

Sebelum konferensi utama digelar, rangkaian kegiatan diawali dengan Asian Leaders Roundtable yang mengangkat tema Asia’s Options in an “Age of Power”: How to Defend and Rebuild the Rules-Based Multilateral Order.

Dalam forum tersebut, SBY bertindak sebagai Co-Chair bersama Fumio Kishida. Sejumlah tokoh Indonesia turut menjadi panelis, antara lain Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, serta mantan Duta Besar Indonesia untuk Inggris Rizal Sukma.

Forum ini juga menghadirkan tokoh internasional lainnya seperti mantan Wakil Perdana Menteri Singapura Heng Swee Keat dan mantan Gubernur Bank Sentral India Duvvuri Subbarao.

Diskusi dalam roundtable tersebut berfokus pada peran negara-negara Asia dalam mempertahankan tatanan dunia berbasis aturan sekaligus memperkuat multilateralisme di tengah meningkatnya politik kekuatan global. (saf/iss)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
KPK Ungkap Bupati Cilacap Diduga Palak Dinas untuk THR sejak 2025
• 9 jam laludetik.com
thumb
Ole Romeny Disebut Cedera saat Latihan di Oxford United, Ketua BTN Sumardji Buka Suara
• 22 jam lalutvonenews.com
thumb
Jelang Kejurnas, PB ORADO Apresiasi Kejurcab Bandar Lampung
• 8 jam laluviva.co.id
thumb
Manchester United vs Aston Villa, Carrick Optimistis MU Raih Tiket Liga Champions
• 6 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Aksi Biadab Penyiram Air Keras Aktivis KontraS Terekam CCTV, Ini Kata Kapolda Metro
• 7 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.