EtIndonesia. Rekaman terbaru yang dirilis pada Kamis (12 Maret) oleh United States Central Command menyebutkan komandan angkatan udara Islamic Revolutionary Guard Corps, Sardar Ismail Dehghan, tewas bersama anggota keluarganya dalam sebuah serangan. Pemerintah di Tehran kemudian mengkonfirmasi kabar tersebut.
Kematian tokoh penting militer Iran ini dianggap memberikan pukulan besar terhadap pusat komando militer Iran.
Selain itu, laporan terbaru juga menyebutkan bahwa sebuah pesawat tanker pengisian bahan bakar udara milik AS, KC-135 Stratotanker, jatuh secara tidak sengaja di wilayah udara negara sekutu, dan operasi pencarian serta penyelamatan masih terus berlangsung.
Serangan terhadap pesawat militer IranRekaman yang dirilis oleh United States Central Command menunjukkan rudal menghantam target secara presisi, menyebabkan beberapa pesawat militer Iran meledak dan berubah menjadi bola api.
Serangan ini terjadi setelah militer AS sebelumnya melemahkan kekuatan angkatan laut Iran, dan kini melanjutkan operasi dengan menargetkan angkatan udara Iran.
Komandan IRGC tewas bersama keluargaPada hari yang sama, pihak Iran mengkonfirmasi bahwa komandan angkatan udara Garda Revolusi, Sardar Ismail Dehghan, tewas dalam serangan di kota Arak, Iran tengah, bersama:
- istrinya
- dua anaknya
- seorang kerabat
Sebagai komandan angkatan udara IRGC, ia dituduh mengkoordinasikan serangan jarak jauh terhadap pangkalan militer AS di Timur Tengah serta wilayah Israel.
Kematian Dehghan dianggap sebagai pukulan besar lainnya bagi sistem komando Garda Revolusi Iran.
Ledakan besar di beberapa kota strategisBeberapa sumber juga melaporkan bahwa kota strategis Iran, Ahvaz, pada Kamis mengalami serangkaian ledakan besar yang menargetkan:
- pangkalan drone milik Islamic Revolutionary Guard Corps
- pos kepolisian
- fasilitas keamanan milik Basij
Analis menyebut bahwa selain menghancurkan pasukan berat Iran, koalisi militer AS–Israel juga berusaha melumpuhkan jaringan keamanan internal rezim Iran melalui serangan yang bersifat “melumpuhkan fungsi sistem”.
Serangan terhadap fasilitas nuklirPada hari yang sama, Israel Defense Forces mengkonfirmasi bahwa koalisi AS–Israel mengebom fasilitas nuklir Iran di Taleghan nuclear facility.
Citra satelit menunjukkan tiga kawah besar dan sangat presisi pada bangunan tersebut, yang diduga akibat penggunaan bom penghancur bunker raksasa GBU-57 Massive Ordnance Penetrator.
Hingga 12 Maret, menurut laporan militer AS, operasi militer Operation Epic Fury telah:
- menghancurkan sekitar 6.000 target Iran
- menghancurkan atau merusak lebih dari 90 kapal perang dan kapal penebar ranjau Iran
Sementara itu, Israel kembali melancarkan serangan terhadap kelompok proksi Iran, Hezbollah. Militer Israel menyatakan bahwa tiga pemimpin senior kelompok tersebut tewas, termasuk:
- Abu Dharr Mohammadi
Mohammadi disebut sebagai komandan operasi pasukan rudal Hezbollah yang ditempatkan di Beirut oleh Garda Revolusi Iran, serta tokoh kunci koordinasi antara Hezbollah dan pemerintah Iran.
Ancaman penutupan Selat HormuzPada hari yang sama, pemimpin baru Iran Mojtaba Khamenei yang sebelumnya jarang muncul akhirnya menyampaikan pernyataan melalui televisi nasional Iran. Ia mengeluarkan pernyataan keras, mengancam akan:
- memblokade Strait of Hormuz
- menyerang pangkalan militer Amerika Serikat
Drone Iran juga dilaporkan memasuki wilayah udara beberapa negara di Timur Tengah, termasuk:
- Kuwait
- Iraq
- United Arab Emirates
- Bahrain
- Oman
Selain itu, beberapa kapal dagang juga diserang. Dua kapal tanker minyak di dekat perairan Irak dilaporkan meledak dan terbakar hebat setelah diserang.
Garda Revolusi Iran kemudian mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut.
Negara-negara mulai mengevakuasi wargaMenghadapi situasi kawasan yang semakin tegang, berbagai negara mulai mempercepat evakuasi warga negara mereka.
United States Department of State pada Kamis menyatakan bahwa mereka telah mengatur hampir 50 penerbangan charter untuk membantu warga Amerika meninggalkan kawasan Timur Tengah.
Sejauh ini, lebih dari 43.000 warga Amerika telah kembali dari Timur Tengah ke Amerika Serikat.
Reporter NTD Television, Yi Jing, melaporkan.




