Bank Indonesia: Perang AS-Israel vs Iran Berpotensi Tekan Ekonomi Sumut

bisnis.com
17 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, MEDAN - Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Sumatra Utara (Sumut) menyebut kondisi geopolitik global terkini seperti perang di Timur Tengah akibat serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran akan berpengaruh terhadap perekonomian Sumut.

Deputi Kepala Perwakilan BI Sumut Iman Gunadi mengatakan perang dapat membuat kinerja ekspor Sumut tertekan lantaran Selat Hormuz yang merupakan jalur kapal utama yang membawa komoditas dari Sumut ke Eropa ditutup. Sumut sendiri dikenal dengan ekspor pertanian dan perkebunan terbesar seperti CPO, kopi, dan karet.

"Biasanya kapal dari Belawan yang membawa komoditas kita bisa sampai ke Eropa dalam waktu 25 hari. Namun karena Selat Hormuz ditutup dan Terusan Suez juga terkendala, jalurnya harus memutar dulu ke Afrika Selatan yang menambah waktu perjalanan sekitar 11-15 hari," kata Iman dalam panel diskusi 'North Sumatra Economic Xceleration Talk' (NEXT) di Medan, Kamis (12/3/2026) petang.

Iman menjelaskan dampak jangka panjang dari tensi global, di mana bertambahnya waktu tempuh akan berdampak pada kenaikan biaya ekspor. Hal ini turut mengerek harga komoditas seperti minyak dunia yang pada akhirnya akan memengaruhi laju inflasi global.

Iman mengatakan laju inflasi global diperkirakan cukup tinggi di tahun 2026 sehingga akan ada potensi peningkatan suku bunga untuk meredamnya.

Dia menyebut Sumut perlu mewaspadai tekanan geopolitik global yang dapat membuat disrupsi dalam rantai pasok akibat harga komoditas yang naik maupun kenaikan biaya kargo. Apalagi, belum ada titik terang kapan perang akan berakhir.

Baca Juga

  • Luhut Beberkan Dampak Penutupan Selat Hormuz jika Perang Iran vs AS-Israel Terus Berlanjut
  • Wamenpar Akui Perang Iran vs Israel-AS Berdampak Pada Pariwisata Indonesia
  • Bersamaan dengan Nyepi, Umat Islam di Bali Diminta Takbiran di Rumah

"Kita perlu berjaga-jaga agar dampak yang ditimbulkan dari ketegangan geopolitik global ini menjadi minimal atau dapat diminimalkan di Sumatra Utara," jelasnya.

Adapun, KPw BI Sumut memprakirakan ekonomi Sumut pada tahun 2026 akan tumbuh pada rentang 4,9% (YoY) sampai 5,7% (YoY).

Beberapa faktor yang disebut dapat jadi pendorong pertumbuhan ekonomi Sumut antara lain meningkatnya permintaan CPO, potensi menguatnya harga komoditas utama seperti CPO, percepatan program Asta Cita Pemerintahan Prabowo-Gibran, serta potensi peningkatan investasi di kawasan industri dan kawasan ekonomi khusus di Sumut.

Deputi Kepala Perwakilan BI Sumut Iman Gunadi (kedua, kiri) tengah memaparkan materi terkait tantangan perekonomian Sumut dalam diskusi panel di agenda 'North Sumatra Economic Xceleration Talk' (NEXT) yang bertema “Akselerasi Pembiayaan dalam Mendorong Program Prioritas Nasional dan Daerah” di Medan, Kamis (12/3/2026) petang. JIBI/Delfi Rismayeti


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Aksi Biadab Penyiram Air Keras Aktivis KontraS Terekam CCTV, Ini Kata Kapolda Metro
• 7 jam laluokezone.com
thumb
TelkomMetra Restrukturisasi Bisnis, AdMedika Masuk Fase Baru
• 16 jam lalubisnis.com
thumb
KPK Larang ASN Pakai Mobil Dinas untuk Mudik Lebaran
• 12 jam lalukompas.com
thumb
Update Harga iPhone Hari Ini 14 Maret 2026, Ada Diskon Besar Jelang Lebaran
• 13 jam lalutvonenews.com
thumb
Arahan Luhut Saat RI akan Naikan Batas Defisit APBN di Atas 3%
• 16 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.