Langkah Amerika Serikat (AS) melonggarkan sanksi terhadap perdagangan minyak mentah Rusia, dipicu oleh kenaikan harga komoditas energi tersebut imbas disrupsi pasokan dari Timur Tengah.
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung mengatakan, relaksasi tersebut berpotensi dimanfaatkan Indonesia untuk mendapatkan alternatif pasokan.
Kendati begitu, Yuliot memastikan hingga saat ini belum ada pembahasan apa pun dari pemerintah terkait hal tersebut. Selain itu, segala keputusan juga merupakan kewenangan bisnis PT Pertamina (Persero).
"Itu, kan, keputusan bisnis itu nanti sama Pertamina. Jadi mana yang lebih membutuhkan sepanjang ada relaksasi, ya, tentu kita akan memanfaatkan itu prosesnya," ungkapnya saat ditemui di kantor Kementerian ESDM, Jumat (13/3).
Relaksasi dari pemerintah AS hanya berlaku sementara bagi minyak Rusia yang saat ini masih berada di laut. Kebijakan ini untuk menambah pasokan global dan menekan kenaikan harga di tengah konflik Timur Tengah.
Dikutip dari Reuters, pada penutupan Jumat (13/3), harga minyak mentah dunia naik. Kontrak berjangka Brent untuk Mei ditutup pada USD 103,14 per barel, naik 2,67 persen. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk April ditutup pada $98,71 per barel, naik 3,11 persen.
Sebelumnya, Menteri Keuangan (Menkeu) AS, Scott Bessent, mengatakan kebijakan tersebut hanya bersifat terbatas dan sementara. Dalam unggahan di media sosial X, dia menegaskan kebijakan ini tak dimaksudkan untuk memberikan keuntungan besar bagi Rusia.
"Langkah jangka pendek yang dirancang secara khusus ini hanya berlaku untuk minyak yang sudah dalam perjalanan dan tidak akan memberikan manfaat finansial yang signifikan bagi pemerintah Rusia," kata Scott, dikutip dari Bloomberg.
Kebijakan ini hanya berlaku untuk minyak Rusia yang sudah dimuat ke kapal sebelum 12 Maret 2026. Sebelumnya, pemerintah AS juga memberikan pengecualian selama satu bulan kepada India untuk mengambil minyak Rusia yang dimuat sebelum 5 Maret.
Dengan aturan baru ini, izin pembelian tidak lagi terbatas untuk India, namun tetap melarang Iran membeli minyak tersebut. Scott menjelaskan, strategi ini bagian dari upaya pemerintah AS menstabilkan pasar energi global yang tengah menghadapi tekanan akibat konflik geopolitik.
"@POTUS mengambil langkah-langkah tegas untuk mempromosikan stabilitas di pasar energi global dan berupaya menjaga harga tetap rendah seiring kita mengatasi ancaman dan ketidakstabilan yang ditimbulkan oleh rezim teroris Iran," katanya.




